Baru Selesai Di Bangun Jalan 10 Miliyar Jalur Wonodadi-Mataram Retak Dan Berlubang
PRINGSEWU – Seharusnya, aspal sepanjang ruas Wonodadi Utara hingga Mataram (Sp. ABC) menjadi simbol kemajuan yang kokoh. Namun, realita di lapangan justru menyuguhkan pemandangan ironis. Belum genap 90 hari kalender berjalan sejak pita peresmian (mungkin) dipotong, infrastruktur senilai Rp10.050.000.000 ini sudah mulai kehilangan harga dirinya. Aspal yang seharusnya hitam legam kini mengelupas, amblas di sana-sini, seolah-olah dibangun dengan angan-angan, bukan dengan standar spesifikasi yang mumpuni.
Suara dari Debu Jalanan
Masyarakat dan pengguna jalan kini menjadi saksi bisu dari apa yang mereka sebut sebagai "proyek kosmetik". Keluhan mengalir sederas air hujan yang merusak permukaan jalan tersebut.
"Masa baru tiga bulan jalan sudah rusak? Kalau memang kualitasnya bagus, tidak mungkin secepat ini amblas," ujar seorang warga sembari menunjuk ceruk lubang yang kian menganga.
Kalimat sederhana itu adalah tamparan keras bagi siapa pun yang bertanggung jawab atas pengawasan proyek ini. Kekecewaan warga sangat berdasar: uang rakyat senilai Rp10 miliar lebih seolah luruh bersama debu-debu jalanan yang kini mengganggu pernapasan mereka.
Investasi yang Ringkih
Berdasarkan data yang dihimpun, pembangunan infrastruktur ini dikerjakan oleh CV. WIRA BUMI PERKASA. Nilai kontraknya tidak main-main: Rp10.050.000.000. Dana sebesar itu bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD Kabupaten tahun anggaran 2025.
Secara filosofis, DAU adalah amanah konstitusi—transfer dana pusat yang ditujukan untuk meningkatkan pelayanan publik dan konektivitas daerah. Namun, di ruas Wonodadi Utara-Mataram, amanah tersebut tampak ringkih. Peningkatan jalan yang diharapkan menjadi solusi mobilitas, kini justru dicurigai tidak memenuhi standar kelayakan (sfek) yang telah ditetapkan dalam kontrak kerja.
Pemandangan aspal yang mengelupas dalam hitungan bulan memicu tanda tanya besar: Apakah pengawasan lapangan tertidur saat alat berat bekerja? Ataukah ada "kompromi" di balik racikan aspal yang membuatnya begitu rapuh menghadapi cuaca dan beban kendaraan?
Dugaan pengerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis menjadi aroma yang sulit ditutupi. Di tengah ambisi pemerintah kabupaten untuk meningkatkan konektivitas, kehadiran proyek "seumur jagung" ini justru mencoreng kredibilitas pembangunan daerah. Uang miliaran rupiah yang seharusnya menjadi investasi jangka panjang, kini terancam menjadi pemborosan rutin untuk pemeliharaan yang prematur.
Desakan Tindakan Tegas
Masyarakat kini menggantungkan harapan terakhir kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan pihak-pihak terkait. Bukan sekadar menambal sulam lubang yang ada, warga mendesak otoritas terkait untuk segera turun ke lapangan dan melihat langsung "borok" infrastruktur tersebut.
Tuntutan publik sudah jelas: Tindakan tegas dan sanksi.
Masyarakat meminta dinas tidak menutup mata dan segera memberikan sanksi keras kepada pihak pelaksana maupun konsultan pengawas yang dianggap lalai dalam menjalankan fungsi kontrolnya. Integritas pembangunan di Kabupaten Pringsewu kini sedang dipertaruhkan di atas aspal yang mulai hancur tersebut. Jika dalam tiga bulan saja jalan sudah "sakit-sakitan", maka publik berhak bertanya: Apakah ini pembangunan untuk masa depan, atau sekadar seremoni pemborosan anggaran?
Catatan Redaksi:
Pewarta berupaya terus untuk melakukan konfirmasi kepada pihak kontraktor (CV. WIRA BUMI PERKASA) dan Dinas PU Kabupaten Pringsewu guna mendapatkan klarifikasi terkait teknis pengerjaan dan tanggung jawab pemeliharaan. Hak jawab dan tanggapan dari pihak terkait akan dimuat pada pemberitaan selanjutnya demi menjunjung tinggi prinsip keberimbangan informasi.
(HT)








Post a Comment