M. RANGGA PUTRA HAKIM: ISRA MIRAJ HARUS DI HIDUPKAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
PUGUNG, TANGGAMUS-- wakil ketua I DPRD Kabupaten Tanggamus praksi Gerindra, M. Rangga Putra Hakim, mengemukakan bahwa peringatan Isra Miraj bukan sekadar seremoni, melainkan harus dimaknai dan diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat serta penguatan spiritualitas pribadi yang lebih bertakwa.
Pesan itu disampaikan Rangga dalam keterangannya di kediamannya, pekon Rantau tijang, kecamatan pugung, kabupaten tanggamus, Jumat, dalam rangka refleksi Isra Miraj 1447 Hijriah/2026 Masehi.
"Isra Miraj merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang Muslim. Sebab, peristiwa ini menjadi mukjizat di luar nalar manusia pada umumnya,ucap Rangga.
Dari peristiwa Isra Miraj, kata Rangga dapat dijadikan kesempatan untuk membangun relasi ketuhanan oleh masyarakat dan pemimpin daerah. Sekaligus menguatkan tauhid, iman, dan takwa, sehingga membangkitkan jiwa saleh.
Kesalehan diri diharapkan Rangga menjadi rambu-rambu penghalang bagi manusia ketika muncul hasrat berbuat buruk, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, berbuat jahat, perilaku buruk, berkata kasar, dan perbuatan tak pantas lainnya.
“Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan, dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah,” katanya.
Ia mengatakan relasi murakabah merupakan kesadaran spiritual mendalam bahwa seorang hamba merasa terus diawasi.
"Jika relasi ini hidup dalam jiwa masyarakat dan pemimpin, diharapkan hasrat untuk berperilaku buruk tidak jadi dilakukan," ujarnya.
M. Rangga berharap momen Isra Miraj menjadi titik tolak untuk menggali keteladanan Nabi Muhammad. Terlebih saat ini warga masyarakat, termasuk umat beragama dan pemimpin atau elit pemerintah daerah miskin keteladanan.
“Mari jadikan peringatan Isra Miraj untuk belajar terus menerus menampilkan keteladanan yang otentik,” katanya.
M. Rangga meminta pemimpin Daerah menjadikan Isra Miraj sebagai cermin untuk berkata dan bertindak yang seksama. Sehingga, warga bangsa menaruh hormat dan percaya, serta membangun rasa memiliki teladan dari pemimpin mereka.
Sementara bagi kalangan elit, Rangga mengajak supaya selaras antara ajaran dengan tindakan, dimana ajaran-ajaran luhur agama tidak boleh retak dengan tindakan, sebab akan merusak kepercayaan.
M. Rangga menambahkan bahwa kegersangan teladan di tengah masyarakat ini harus diteduhkan, dan tugas para elit setiap level adalah menjadi oase keteladanan untuk menghilangkan dahaga.
“Jika peran suasana itu dijalankan, kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan,” kata M. Rangga.
-Hayat-








Post a Comment