Header Ads

ViralPetang.Com : Menyajikan Berita yang AKURAT, TERPERCAYA dan BERIMBANG. Dengan berbagai kategori berita pilihan dan terkini.

SUMPAH PEMUDA ATAU SAMPAH PEMUDA?, Mahasiswa Atau Mahasewa



# (CELOTEH SANDI FW)

SUMPAH PEMUDA ATAU SAMPAH PEMUDA?

MAHASISWA ATAU MAHASEWA?


### Ketika Popularitas, Influencer, dan Semangat Kebangsaan Dipertanyakan


Ada yang menarik sekaligus menggelitik nalar kita dalam peringatan Sumpah Pemuda tahun ini.


Sebuah deklarasi yang mengatasnamakan semangat kebangsaan dan persatuan pemuda di Bundaran HI justru menjadi sorotan setelah muncul pengakuan seseorang yang mengaku bukan mahasiswa, tetapi hadir dengan atribut almamater dan mengaku dibayar untuk mengikuti kegiatan tersebut.


Sejumlah figur publik dan influencer turut menjadi perbincangan. Ada yang menyampaikan ajakan melawan hoaks dan menjaga persatuan. Ada pula yang memberikan klarifikasi terkait kehadirannya dalam acara tersebut.


Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:


**Apakah semangat Sumpah Pemuda sedang benar-benar diperjuangkan, atau sekadar dipertontonkan demi panggung, popularitas, dan kepentingan tertentu?**


### Influencer: Pemengaruh atau Sekadar Pencari Pengaruh?


Hari ini, seseorang dengan jutaan pengikut bisa membentuk opini publik hanya melalui satu unggahan. Selebritas dan influencer memiliki kekuatan luar biasa untuk menggerakkan masyarakat.


Namun, kekuatan besar selalu datang bersama tanggung jawab besar.


Ketika influencer berbicara tentang persatuan, apakah mereka juga memperjuangkan keadilan? Ketika mengajak pemuda bangkit, apakah mereka juga peduli terhadap pemuda yang menganggur? Ketika tampil dalam acara kebangsaan, apakah mereka memahami persoalan yang sedang diperjuangkan?


Jangan sampai popularitas dianggap sebagai legitimasi moral. Jangan sampai jumlah pengikut lebih dihargai daripada kedalaman pemikiran.


**Influencer seharusnya bukan hanya mampu memengaruhi apa yang ditonton masyarakat, tetapi juga ikut membangun apa yang dipikirkan dan dilakukan masyarakat.**


Sebab, bangsa ini tidak kekurangan orang terkenal. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang terkenal yang berani memperjuangkan kepentingan orang banyak.


### Sumpah Pemuda Bukan Konten Seremonial!


Sumpah Pemuda 1928 bukan lahir dari panggung megah, kamera, pencitraan, atau tepuk tangan publik. Ia lahir dari kesadaran, keberanian, dan pengorbanan untuk menyatukan bangsa.


Lantas, apa makna sebuah deklarasi pemuda jika pesertanya hanya hadir demi bayaran? Apa arti atribut mahasiswa jika identitas itu tidak mencerminkan kenyataan? Dan apa nilai sebuah gerakan jika yang lebih diutamakan adalah viralitas, bukan substansi?


Tentu, menghadiri acara dengan honorarium bukan otomatis salah. Dalam kegiatan tertentu, biaya transportasi, konsumsi, atau kompensasi peserta adalah hal yang wajar.


**Yang menjadi persoalan adalah ketika identitas, representasi, dan semangat perjuangan dipertanyakan.**


Jika sebuah kegiatan mengatasnamakan mahasiswa, maka mahasiswa yang sesungguhnya harus dilibatkan. Jika mengatasnamakan pemuda, maka pemuda harus menjadi penggerak, bukan sekadar pelengkap visual.


Jangan sampai semangat perjuangan hanya menjadi properti untuk kebutuhan kamera.


### Artis Boleh Berpolitik, Tetapi Publik Berhak Mengkritisi


Kita tidak sedang melarang selebritas berbicara tentang politik, kebangsaan, atau persoalan sosial. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak menyampaikan pendapat.


Namun, ketika popularitas digunakan untuk menyampaikan pesan publik, masyarakat juga memiliki hak untuk menguji pesan tersebut.


Apakah ajakannya konsisten dengan tindakannya? Apakah keberpihakannya nyata? Apakah ia bersedia memahami persoalan sebelum tampil menyampaikan pernyataan?


Jangan alergi terhadap kritik. Jangan pula buru-buru melabeli masyarakat yang bertanya sebagai pembenci atau penyebar hoaks.


**Kritik bukan musuh persatuan. Kritik yang jujur justru bisa menjadi fondasi persatuan yang sehat.**


Persatuan bukan berarti semua orang harus diam. Persatuan berarti kita mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan kepedulian terhadap bangsa.


### Sementara Itu, Pemuda Sedang Berjuang Mencari Masa Depan


Di luar panggung deklarasi dan hiruk-pikuk media sosial, ada jutaan pemuda yang sedang menghadapi kenyataan hidup.


Ada sarjana yang mengirim puluhan lamaran kerja tanpa jawaban. Ada mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah demi membayar biaya pendidikan. Ada anak muda di desa yang memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki akses dan kesempatan. Ada generasi yang ingin berwirausaha, tetapi kesulitan mendapatkan modal dan pendampingan.


Mereka tidak membutuhkan sekadar slogan “Pemuda adalah harapan bangsa”.


Mereka membutuhkan kesempatan untuk membuktikan bahwa harapan itu masih masuk akal.


Maka, jika selebritas dan influencer ingin menjadi bagian dari gerakan pemuda, mengapa tidak ikut mengangkat persoalan ini?


Mengapa tidak membuat kampanye keterampilan dan lapangan kerja? Mengapa tidak menghubungkan anak muda dengan pelatihan, UMKM, industri, dan peluang usaha? Mengapa tidak menjadikan popularitas sebagai jembatan untuk memperluas kesempatan, bukan sekadar memperbesar penonton?


### Jangan Hanya Viral, Harus Berdampak!


Kita perlu mengubah cara membangun gerakan kepemudaan.


- **Transparansi:** Publik berhak mengetahui siapa penyelenggara, apa tujuan kegiatan, dan bagaimana peserta direkrut.

- **Partisipasi nyata:** Libatkan mahasiswa dan organisasi pemuda yang benar-benar memiliki kapasitas serta rekam kegiatan.

- **Integritas identitas:** Jangan menggunakan atribut kampus, organisasi, atau kelompok masyarakat tanpa kejelasan dan persetujuan.

- **Kolaborasi produktif:** Ajak influencer membangun program nyata seperti beasiswa, pelatihan kerja, inkubasi UMKM, dan literasi digital.

- **Akuntabilitas:** Ukur keberhasilan gerakan dari hasil dan manfaatnya, bukan hanya jumlah penonton, unggahan, dan trending topic.


Kepada para selebritas dan influencer, gunakanlah pengaruh untuk membuka jalan bagi mereka yang tidak memiliki panggung.


Kepada penyelenggara kegiatan, jangan menjadikan pemuda sebagai dekorasi demokrasi dan kebangsaan.


Kepada pemerintah, jangan hanya menggandeng figur terkenal untuk menyampaikan pesan. Dengarkan juga suara pemuda yang selama ini tidak pernah mendapatkan mikrofon.


Dan kepada pemuda Indonesia, jangan mudah terpesona oleh popularitas. Belajarlah membedakan mana keteladanan dan mana sekadar tontonan.


### Penutup: Jangan Sampai Sumpah Menjadi Sampah!


Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan. Tidak boleh pula menjadi komoditas untuk kepentingan pencitraan.


Kita boleh punya artis yang terkenal. Kita boleh punya influencer dengan jutaan pengikut. Kita boleh menggelar deklarasi besar-besaran.


Tetapi semua itu akan kehilangan makna jika persoalan pemuda tetap dibiarkan tanpa solusi.


**Jangan sampai Sumpah Pemuda berubah menjadi Sampah Pemuda. Jangan sampai influencer kehilangan makna menjadi sekadar pencari pengaruh. Jangan sampai mahasiswa kehilangan idealisme karena hanya menjadi pelengkap panggung.**


Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai membuat dirinya viral.


Indonesia membutuhkan generasi yang mampu membuat perubahan menjadi nyata.


Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak pengikut yang kita miliki, seberapa sering wajah kita muncul di layar, atau berapa banyak panggung yang kita datangi.


Sejarah akan mencatat: **Apa yang benar-benar kita lakukan untuk bangsa ini?**


— **Sandi Febri Wijaya**

*Celoteh Sandi FW*



Tidak ada komentar

Tulis Komentar Anda yang Baik & Sopan

download aplikasi indospace.net

Download MerchantSpace, Dapatkan Lebih Banyak Pelanggan Dengan Memajang Item Produk Toko/Resto di Aplikas MerchantSpace, Instal sekarng Juga!