Header Ads

ViralPetang.Com : Menyajikan Berita yang AKURAT, TERPERCAYA dan BERIMBANG. Dengan berbagai kategori berita pilihan dan terkini.

Like dan Share di Udara, Nyawa dan Sampah di Darat: Kritik Prioritas Pembangunan Pringsewu


Penulis : Hayat Ketua DPC ASWIN Pringsewu

​PRINGSEWU — Di jantung Lampung, yang konon dikenal sebagai lumbung singkong, akhir pekan ini Pringsewu memilih merayakan kemewahan yang tidak perlu. Lupakan sejenak jeritan ban yang terperosok di lubang jalanan kabupaten. Abaikan dahulu pemandangan menyedihkan atap-atap sekolah yang siap ambruk kapan saja. Sebab, di sini, prioritas telah berganti rupa menjadi: televisi digital.

​SMPN 1 Gadingrejo mendadak menjelma menjadi studio. Tanggal 25 Oktober 2025 akan dicatat bukan sebagai hari peresmian perbaikan sanitasi atau bangkitnya harga komoditas lokal, melainkan sebagai hari hajatan kolosal “Masak Besar Bersama” bersama selebritas internet, Willie Salim.

​Ratusan pelajar dan warga rela berdesakan, menyaksikan pertunjukan yang mengajarkan satu hal: solusi kemiskinan dan ketertinggalan ada di ujung jari, bukan di meja kebijakan. Dan demi memvalidasi ilusi ini, hadirlah dua pimpinan daerah, Bupati Riyanto Pamungkas dan Wakil Bupati Umi Laila, beserta jajaran lengkap. Kehadiran ini seolah berteriak tanpa suara: "Kami serius tentang hype! Urusan infrastruktur? Nanti saja, setelah live streaming ini selesai."


​Memasak Kunci Sukses, Melupakan Akar Penderitaan ​


Puncak acara adalah sesi pencerahan: cara menjadi konten kreator sukses hanya dengan HP. Sungguh edukasi yang visioner! Mengapa harus bersusah payah memikirkan cara meningkatkan mutu guru atau memastikan suplai air bersih, jika generasi muda dapat diajari cara cepat viral?Bupati dalam sambutannya memuji langkah kreatif ini. Tentu saja kreatif! Sebab, jauh lebih mudah memuji kreativitas di ponsel daripada mencari modal untuk merenovasi gedung-gedung sekolah yang sudah menjadi museum kusam.

​Kemudian, di tengah euforia digital, Bapak Bupati tiba-tiba tersadar bahwa ia adalah pemimpin daerah agraris. Isu singkong pun diangkat ke permukaan, sekadar interupsi singkat dari naskah seremonial.Isu singkong ini penting,” ujar beliau, dengan nada yang mungkin serius. “Lampung adalah penghasil singkong terbesar, namun harganya belum berpihak kepada petani, termasuk di Pringsewu. Karenanya, pengembangan produk turunan seperti mocaf harus terus kita dorong.”

​Ironi yang tiada tara. 


Panggung utama diisi oleh influencer yang hidup dari like dan share, sementara suara petani—yang menopang ekonomi riil daerah—hanya menjadi gumaman minor di sela-sela janji lomba memasak mocaf. 

Anak muda diajak bermimpi besar melalui smartphone, sementara orang tua mereka masih bergumul dengan kenyataan pahit bahwa hasil jerih payah mereka dihargai sepotong hampa.

​Janji lomba memasak mocaf dan harapan agar GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) aktif, terasa seperti pil penenang yang disodorkan kepada luka menganga. Kami butuh harga yang stabil, kami butuh irigasi yang layak, kami butuh jalan angkut yang tidak memakan korban. Bukan lagi janji resep masakan.


​Prioritas yang Terkubur di Balik Kilau Kamera


​Ironi ini semakin mendalam saat kita melihat daftar masalah fundamental yang tak tersentuh. 

Alih-alih merayakan ketenaran sesaat, mengapa tidak fokus pada kualitas layanan kesehatan yang memaksa warga merangkak ke ibukota provinsi?

​Prioritas pembangunan seharusnya tertuju pada perbaikan irigasi sawah yang krusial untuk lumbung singkong ini, bukan pada kamera digital. 


Pringsewu juga menghadapi masalah sampah yang menumpuk dan ancaman banjir musiman akibat drainase yang buruk—isu-isu yang jauh lebih mendesak daripada popularitas. Belum lagi bisikan tentang penambangan ilegal yang merusak lingkungan, yang memerlukan tindakan tegas di lapangan, bukan sekadar caption di media sosial.


​Kehebatan Lokal dan Ketinggian Ekspektasi


​Lilis Putri, siswi lokal yang sukses menjadi TikToker, hadir sebagai representasi mimpi. Bupati bangga, tentu saja. ​Namun, di balik kebanggaan itu, muncul pertanyaan pedas: Apakah sukses yang diukur hanyalah sebatas ketenaran di media sosial? Kapan kita bisa bangga karena setiap anak Pringsewu terjamin bisa bersekolah di gedung yang aman, dengan perpustakaan yang lengkap, dan fasilitas pelayanan kesehatan yang murah dan mudah. 


​“Masak Besar Bersama” ini memang berhasil memasak kehebohan. Namun, ia gagal menyajikan menu utama yang seharusnya dinantikan publik: tanggung jawab dan solusi konkret atas isu-isu yang benar-benar mendasar. Ia hanya menjadi perayaan kemewahan kosmetik, penanda jelas bahwa di Pringsewu, wajah di kamera lebih mahal daripada nyawa di jalanan rusak.

Tidak ada komentar

Tulis Komentar Anda yang Baik & Sopan

download aplikasi indospace.net

Download MerchantSpace, Dapatkan Lebih Banyak Pelanggan Dengan Memajang Item Produk Toko/Resto di Aplikas MerchantSpace, Instal sekarng Juga!