Sambut Indonesia Emas 2045: PGNI Usulkan Guru Ngaji Ajarkan Filsafat Sejak Dini
--Bandar Lampung (viralpetang.net),Ketua umum Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Ust.Mas Amiruddin mengusulkan agar filsafat diajarkan di pesantren agar dapat melatih santri berpikir kritis, logis, dan inovatif dalam memecahkan masalah.
*Filsafat tidak harus diajarkan dengan istilah rumit*
Di tingkat dasar, ia bisa muncul dari percakapan sederhana: mengapa kita harus jujur? Bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil?
Diskusi-diskusi ringan semacam itu akan menumbuhkan empati, melatih imajinasi moral, sekaligus memperkuat karakter.
Lebih jauh, filsafat juga mendorong siswa untuk berani menciptakan inovasi.
Ust.Mas Amiruddin menyebut enam tahapan berpikir filosofis: menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan inovasi.
Sayangnya, mayoritas siswa kita masih berkutat di level pertama yaitu menghafal.
Padahal, bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu melampaui sekadar menghafal, menuju generasi yang mampu menciptakan inovasi.
*Menurut saya, filsafat adalah fondasi yang memperkuat semua ilmu.*
Seorang dokter yang berpikir filosofis akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan etis.
Seorang insinyur yang terbiasa menganalisis makna dan dampak akan lebih peduli terhadap keselamatan publik.
Bahkan seorang programmer yang terbiasa bertanya “untuk apa aplikasi ini dibuat?” akan lebih sensitif terhadap isu privasi dan keamanan data.
Disiplin ilmu filsafat ini memandu pembentukan moral yang kuat, mendasari nilai esensial pendidikan Islam, dan membekali santri untuk menghadapi tantangan transformasi di era modern sambut Indonesia emas 2045. Ujar Ust.Mas Amiruddin
*Melatih Nalar Kritis dan Analitis:*
Filsafat mengajarkan metodologi berpikir sistematis dan mendalam, sehingga santri tidak hanya menelan informasi mentah-mentah tetapi mampu menganalisis dalil, fenomena sosial, hingga isu-isu kontemporer dengan lebih objektif.
*Penguatan Logika (Mantiq):*
Di banyak pesantren salaf, logika klasik Islam yang dikenal dengan Ilmu Mantiq sebenarnya adalah cabang filsafat. Mempelajarinya membantu santri menyusun argumen yang valid dan menghindari kesesatan berpikir (fallacy).
*Menjawab Tantangan Zaman:*
Pemahaman filosofis membekali santri dengan kerangka berpikir yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing oleh pemikiran modern, radikalisme, maupun relativisme di era digital.
Integrasi Keilmuan:
*Mempelajari filsafat membantu menyelaraskan antara teks-teks keagamaan klasik (naqliyah) dan nalar akal sehat (aqliyah), menjadikan santri lebih luwes dan bijak dalam merespons perbedaan pendapat.*
.
Ust.Mas Amiruddin menyatakan keprihatinannya terhadap maraknya kasus santri yang terpapar paham ekstremisme.
Ia menyebutkan, bahkan ada beberapa pelajar yang bahkan ditangkap Densus 88 karena berafiliasi dengan jaringan terorisme, bahkan berencana meledakkan kantor polisi.
Selain itu, ust.Mas Amiruddin juga menyoroti kasus-kasus diskriminasi yang masih sering terjadi di lingkungan pesantren.
"Saya prihatin, sampai hari ini masih ada diskriminasi dalam dunia pendidikan kita, dan intoleransi itu adalah pintu gerbang orang menjadi radikal dan terorisme," ujar Ust.Mas Amiruddin
Menurutnya, masalah ini bisa dicegah dengan mengajarkan filsafat sejak dini.
Pendidikan filsafat dinilai dapat membentuk pribadi yang berempati, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang kuat.
Ust.Mas Amiruddin menjelaskan, orang yang terbiasa berpikir filosofis tidak akan mudah termakan berita bohong atau hoaks.
Cara berpikir kritis akan mendorong mereka untuk selalu mempertanyakan kebenaran, menguji sumber, dan menganalisis tujuan dari penyebaran informasi.
"Filsafat akan membantu kita untuk tidak langsung percaya terhadap berita yang kita terima, selalu mencari dasar kebenaran, serta memahami dampak dari informasi yang diterima," katanya.
Ia menambahkan, filsafat pada dasarnya adalah "induk dari segala ilmu" yang melatih pemikiran kritis, logis, dan metodologis.
*Di tingkat dasar, filsafat bisa diajarkan melalui pertanyaan sederhana seperti "kenapa" dan "bagaimana" dalam kehidupan sehari-hari, diskusi tentang nilai moral, atau permainan peran.*
*Enam Tahapan Berpikir Filosofis dalam Pendidikan*
Ust.Mas Amiruddin menguraikan enam tahapan berpikir filosofis dalam dunia pendidikan yang dapat dicapai secara bertahap yakni menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan inovasi.
Sayangnya, menurut Ust.Mas Amiruddin, level pendidikan pesantren di Indonesia masih sering terjebak pada tahap pertama, yaitu menghafal. Akibatnya, santri cenderung menafsirkan informasi secara dangkal dan mudah menghakimi tanpa melalui proses analisis.
Ia mencontohkan, banyak santri yang salah menafsirkan makna "kafir" dalam kitab suci, sehingga melarang diri mereka berteman dengan orang yang berbeda agama.
Ust.Mas Amirudin yakin, memasukkan filsafat ke dalam pendidikan anak dari usia dini akan memiliki manfaat signifikan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, membentuk karakter, dan meningkatkan pemahaman siswa tentang diri sendiri serta dunia di sekitar mereka.
"Filsafat juga membantu santri untuk merangsang imajinasi, empati, dan kreativitas, serta mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan dengan lebih baik," pungkas Ust.Mas Amiruddin.








Post a Comment